Part 4
Half Life 2 : Episode OneSetelah di 2 benchmark sebelumnya
Radeon X1650 series tidak mampu melewati
GeForce 7600 series, saya yakin di benchmark inilah dimana card² berbasis ATi
Radeon bisa menunjukkan giginya. Masih sama seperti setting yang saya gunakan untuk benchmark Quake 4, saya menggunakan setting high quality, filtering 4x anti aliansing dan 16x anisotropic filtering dan High Dynamic Range lighting (HDR rendering). Half life 2 source engine menggunakan format integer data untuk HDR rendering, hal inilah menyebabkan dapat diaktifkannya HDR rendering & 4x anti aliansing secara bersamaan pada semua VGA di atas (seperti kita ketahui bahwa arsitektur
nVidia GeForce 7 series tidak mampu menghandle HDR & anti aliansing secara bersamaan, suatu kelemahan yang tidak dimiliki oleh ATi
Radeon X1xxx series).

Seperti yang sudah kita prediksi sebelumnya, engine Half life 2 sangat bersahabat dengan VGA² ATi, sehingga
GeForce 7600 series tertinggal cukup jauh. Hasil benchmark bisa memberikan penjelasan bahwa engine game ini lebih menyukai fill rate & pemrosesan shader yang powerfull. Hal ini dapat dilihat dari jauhnya 24 pixel shader
Radeon X1650XT meninggalkan 12 pixel shader
Radeon X1650Pro, begitu juga 560 MHz shader processor core clock pada
GeForce 7600GT bila dibandingkan 400 MHz shader processor core clock pada
GeForce 7600GS. Setting terbaik untuk memainkan game ini adalah resolusi 1280x1024, high quality, HDR enabled, 4x AA & 16 AF untuk upper-level, sedangkan untuk lower-level 1280x1024, high quality, HDR enabled, 2x AA & 8x AF.
F.E.A.RGame selanjutnya adalah F.E.A.R, sebuah game first person shooter dengan graphic & detail texture yang cukup menawan. Tapi entah karena kebetulan, judul game ini memang sempat membuat “takut” para gamer karena spesifikasi teknis yang menjadi system requirementnya cukup gila²an. Tapi kalau melihat segi gameplay & tampilan graphicnya rasanya beratnya engine game ini cukup beralasan. Saya menggunakan in-game benchmarking untuk mengcapture rata² frame & lowest frame yang dihasilkan. Setting graphic saya naikkan ke max quality (computer ke medium) dan saya menggunakan 2 setting yang berbeda, yaitu dengan dan tanpa mengaktifkan filtering, rekan² bakalan tau maksud saya setelah melihat sendiri hasil benchmark. Untuk itu tetap di tempat duduk anda & jangan kemana², karena… maaf… saya mau ke belakang… panggilan alam… :P


Di tingkat upper-level ketika filtering di non-aktifkan
Radeon X1650XT dapat dikatakan seimbang dengan
GeForce 7600GT, tapi ketika filtering anti aliansing & anisotropic filtering diaktifkan, terlihat 24 pixel shader & 8 vertex shader processor yang dimiliki
Radeon X1650XT lebih powerfull dibandingkan 12 pixel shader & 5 vertex shader processor pada
GeForce 7600GT. Hal ini dapat dibuktikan dengan lebih kecilnya pinalty kerja
Radeon X1650XT bila dibandingkan
GeForce 7600GT pada saat filtering aktif. Sementara itu di tingkat lower-level,
Radeon X1650Pro terlihat mampu mengungguli
GeForce 7600GS di setiap sesi benchmark game ini. Akan tetapi ketika kita berbicara tentang pinalty kerja pada saat filtering aktif, ternyata persentase turunnya performa
Radeon X1650Pro lebih besar bila dibandingkan
GeForce 7600GS, hal ini tentu saja suatu hal yang ironis jika dibandingkan dengan kelas upper-level (
Radeon X1650XT). Akan tetapi hal ini bisa dengan mudah dijelaskan.
Radeon X1650Pro “hanya” memiliki setengah shader power dari
Radeon X1650XT yaitu 12 pixel shader & 5 vertex shader, sedangkan
GeForce 7600GS memiliki shader power yang sama dengan
GeForce 7600GT (hanya berbeda clock speed) yaitu 12 pixel shader dan 5 vertex shader. Suggestion setting dalam memainkan game ini agak susah, di tingkat upper-level saya masih bisa memainkan F.E.A.R dengan resolusi 1024x768, graphic : max quality, cumputer : medium, 4x AA & 16 AF, walaupun terkadang masih terasa lag. Sementara di tingkat lower level, lebih baik anda bermain di resolusi 1024x768, max quality dan menon-aktifkan filtering.
Call of Duty 2Inilah game yang selama ini saya tunggu² sejak seri Call of Duty dan Medal of Honor. Sebuah game first person shooter dengan setting sejarah memang selalu menarik, apalagi jika sejarah itu menyangkut lebih dari 60% penduduk dunia (Indonesia termasuk juga), dan perang dunia 2 adalah salah satunya. Kita bisa merasakan bagaimana kengerian yang terjadi lebih kurang 65 tahun yang lalu, kita seakan juga ikut merasakan perjalanan dan petualangan para serdadu di medan perang, dan yang tak kalah pentingnya beberapa kisah & objective dari game tersebut adalah berdasarkan kisah nyata. Setidaknya ada 2 game yang selalu ada dalam komputer pribadi saya, yaitu Call of Duty 2 dan Brothers in Arms.
Oops… kenapa jadi membahas sentimentil pribadi terhadap game.. harusnya saya khan melanjutkan benchmark dan segera menyelesaikan artikel ini.
Saya menggunakan fraps untuk mengcapture average frame rate. Dan saya memainkan secara manual american section yaitu pendaratan di utah beach, karena menurut saya level ini yang paling berat, rendering texturenya sangat luas, belum lagi harus merender air, dan menurut pengalaman saya di level inilah VGA² kelas mainstream harus bekerja keras untuk mendapatkan frame rate yang playable. Uhm.. sekedar untuk catatan, sebenarnya sejak call of duty yang pertama, game ini udah ada in-game bechmarknya, hanya saja kita ngga bisa mengetahui rata² fps karena ngga ada output dari in-game benchmark tersebut. Kalau rekan² pengen nyoba in-game benchmarknya, coba cari game confignya, kemudian tambahkan string “set showfps 1” CMIIW (agak lupa, soalnya kalo di COD 1 udah ada string valuenya, sedangkan di COD 2 harus nambahin sendiri di game confignya).
Game ini sebenarnya sudah support multi-processor (seperti Quake 4) hanya saja saya belum mendapatkan pacth updatenya sehingga pada benchmark kali ini saya tidak menggunakan multi-processor. Seperti sebelumnya, karena engine game ini cukup berat untuk dapat memainkan dengan setting ultra high, saya membagi benchmark menjadi 2 setting yang berbeda, yaitu dengan filtering (4x AA dan 8x AF via driver control panel) dan tanpa filtering.


Saya benar² tidak menyangka dengan hasil benchmark dari game ini, jujur saja hasil benchmark diatas diluar dugaan saya, Call of Duty biasanya bersahabat dengan VGA²
nVidia, bahkan ketika proses instalasi game ini, anda akan disuguhi logo “nVidia it’s meant to be played” pada screenshot game. Akan tetapi hasil benchmark dari F.E.A.R kembali berulang, di tingkat upper-level
Radeon X1650XT mampu berjalan sejajar dengan
GeForce 7600GT pada resolusi 1024x768, bahkan ketika resolusi dinaikkan menjadi 1280x1024,
Radeon X1650XT mempu mempermalukan
GeForce 7600GT. Hal ini terus berlanjut ketika filtering anti aliansing dan anisotropic filtering diaktifkan. 24 pixel dan 8 vertex shader processor
Radeon X1650XT kembali membuktikan lebih powerfull untuk menghandle filtering dibandingkan 12 pixel dan 5 vertex shader processor
GeForce 7600GT. Pinalty kerja filtering
Radeon X1650XT lebih kecil jika dibandingkan dengan
GeForce 7600GT. Sementara di lower-level,
GeForce 7600GS tidak berkutik dan tidak mampu berbuat banyak untuk mengejar
Radeon X1650Pro, baik ketika filtering non-aktif maupun ketika filtering aktif. Kembali lagi masalah rendahnya core clock dan penggunaan interface memory GDDR2 yang “hanya” berjalan di 400 MHz (800 MHz effective) menjadi bottleneck bagi
GeForce 7600GS. Setting terbaik untuk memainkan game ini di tingkat upper-level adalah resolusi 1024x768, high detail, DX 9 rendering (tentu saja!), 4x AA dan 8x AF, sementara di tingkat lower level, lebih baik anda bermain di resolusi 1024x768, high detail, DX 9 rendering (tentu saja!), dan menon-aktifkan filtering.
Need For Speed : Most Wanted (NFSMW)
Jenuh bermain cowboy²an (baca : tembak²an), kita beralih ke racing game, sebelumnya saya mohon maaf karena memakai Need for Speed : Most Wanted dan bukannya NFS Carbon, jujur ajah saya belum mendapatkan NFS Carbon, di kota kecil nyari game susah, jangankan yang original, yang bajakan ajah susah.
Cukup sudah acara maaf²an-nya, gimana kalau kita langsung masuk pada sesi setting game benchmark. Kembali saya menggunakan fraps untuk mengcapture frame rate. Semua setting game saya naikkan sampe level maximum quality, kemudian saya memainkan costum sprint race. Seperti 2 benchmark sebelumnya, karena game ini termasuk berat (kalau hasil benchmark dengan filtering aktif dipakai sebagai acuan bermain game, bakalan ngga playable), maka saya membagi 2 sesi benchmark, yaitu dengan dan tanpa filtering.


Kali ini kembali
nVidia mengambil alih dan mendominasi jalur balapan. di tingkat upper-level,
GeForce 7600GT mampu membukukan kemenangan pada resolusi 1024x768 baik dengan filtering aktif maupun non-aktif, sedangkan pada resolusi 1280x1024 jarak kemenangan
GeForce 7600GT semakin menipis, sayangnya saya tidak sempat melakukan benchmark pada resolusi 1600x1200 (saya tau pikiran anda… Pasti LAG!), tapi paling tidak kita bisa tahu apakah
Radeon X1650XT mampu mengungguli
GeForce 7600GT di resolusi 1600x1200. beralih ke kinerja filtering, kembali terlihat pinalty kerja filtering
Radeon X1650XT lebih kecil dibanding
GeForce 7600GT. saya rasa anda tentu sudah tau jawabannya bukan? So… move along… beralih ke lower-level, ternyata
GeForce 7600GS tidak seberuntung "kakaknya”, di semua resolusi baik tanpa maupun dengan filtering
Radeon X1650Pro mampu melewati
GeForce 7600GS. Setting terbaik untuk memainkan game ini di tingkat upper-level adalah resolusi 1024x768, max quality, 4x AA dan 8x AF, sementara di tingkat lower level, lebih baik anda bermain di resolusi 1024x768, max quality, dan menon-aktifkan filtering.